Make your own free website on Tripod.com

 

TANGIS SEORANG USTADZ

 

Dalam berda'wah, materi kequr'anan adalah materi asas. Baik yang menyangkut tilawahnya, tajwidnya, hafalannya, pemahaman terhadapnya, pengamalannya, pembentukan karakter orang-orang-nya, cita-cita-nya, dan penerapan-nya dalam kehidupan.

 

Namun demikian, terkadang kita temui, ada sebagian (wallahu a'lam, sebagian

kecil atau sebagian besar) da'i yang bacaan Al Qur'an-nya masih belepotan, dalam arti, perbedaan antara satu huruf dengan huruf lainnya belum jelas, bahkan, ada yang warna dialek daerahnya masih sangat kental. Ada pula yang

meng-ghunnah-kan huruf-huruf yang harusnya izh-har atau meng-qalqalah-kan huruf-huruf yang tidak termasuk dalam kategori qalqalah. Apalagi kalau

tataran kritis kita sudah sampai pada tingkatan makharijul huruf dan shifatul huruf, tentunya, akan semakin banyak lagi fenomena-fenomena kesalahan yang terjadi pada sebagian da'i yang ada.

 

Ini baru kelemahan-kelemahan aspek tilawah yang berkenaan dengan tajwid,

yang bisa jadi, levelnya atau maqam-nya sudah dianggap tinggi.

 

Namun, kenyataan yang terjadi pada sebagian da'i yang ada (wallahu a'lam, sebagian kecil atau sebagian besar), ternyata kondisinya bisa (sekali lagi) bisa lebih parah lagi, sebab, ternyata fenomena yatata'ta' (yang membacanya masih ak uk ak uk) juga tidak bisa dikatakan sedikit, meskipun juga tidak bisa kita katakan banyak sekali, padahal, tolok masyarakat kita (meskipun sering sekali kita katakan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat tradisional) adalah bagaimana kualitas bacaan seorang da'i.

 

Menyadari adanya sebagian fenomena seperti ini, ada seorang ustadz (ya, ia adalah seorang ustadz, paling tidak, begitulah sesama da'i memanggilnya) yang mengusulkan agar ditetapkan adanya satu persyaratan khusus tentang ke-qur'an-an ini, persyaratan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, paling tidak dalam hal kemampuan tilawah yang bertajwid.

 

Barangkali karena pertimbangan sulitnya memenuhi permintaan itu, forum yang dihadiri sang ustadz itu tidak menyetujuinya. Yang lebih repot lagi ada suara yang mengatakan bahwa yang terpenting adalah bagaimana pengamalannya, perilakunya, dan penerapannya dalam kehidupan, bukan bacaannya.

 

Barangkali karena kagetnya sang ustadz itu atas suara seperti ini, sontak saja ia menangis tersedu-sedu.

 

Secara harfiyah, suara itu memang terkesan sangatlah shahih. Akan tetapi, kalau kita cermati secara mendalam, kita bisa menyimpulkan bahwa kalimat itu telah masuk dalam kategori: kalimatu haqqin uriida bihi baathilun (pernyataan hak, akan tetapi maksudnya tidak benar), atau paling tidak, kalimat itu adalah kalimat yang tidak secara seratus persen benar.

 

Ada banyak argumen yang bisa dikemukakan di sini yang bisa menjelaskan bahwa kalimat di atas tidaklah seratus persen benar.

 

Wahyu yang pertama kali turun adalah IQRA' yang artinya: BACALAH, di sini bisa kita simpulkan bahwa aspek QIRA'AH memiliki tempat yang sangat tinggi dan agama Islam ini. Bahkan ia adalah MUNTHALAQ (titik tolak, atau istilah kerennya starting point) dalam agama ini. Proses dan cara Rasulullah saw menerima wahyu-pun menunjukkan bahwa aspek QIRA'AH atau lebih tepatnya lagi aspek TILAWAH atau lebih tepat lagi aspek TALAQQI memiliki tempat yang sangat tinggi dalam agama ini.

 

Surat Al Qiyamah: 16 - 19 juga menunjukkan bahwa aspek QIRO'AH secara TALAQQI sangat ditekankan dalam agama ini.

 

Al Qur'an Al Karim, kitab yang menjadi sumber segala sumber dalam agama ini mempunyai dua nama yang sangat terkenal yaitu Al Qur'an, salah satu rahasia dari nama ini adalah karena kitab ini akan terus dijaga dan dipelihara Allah swt dalam hal BACAAN-nya.

 

Barangkali karena pertimbangan-pertimbangan seperti inilah, atau semacamnya, seorang ulama' Islam yang dijuluki syaikhul qurra' wal muhadditsin, yang biasa disebut Ibnul Jazari berkat, gMenerapkan (mempraktekkan) tajwid adalah sesuatu yang wajib dan harus. Siapa tidak membaca Al Qur'an secara shahih, maka ia berdosa. Karena, demikianlah Allah swt menurunkan Al Qur'an ini. Dan demikian pula Al Qur'an itu sampai kepada kita.

 

Kenyataan sejarah perjalanan nabi Muhammad saw bersama para sahabatnya dalam berda'wah juga menunjukkan bahwa perhatian beliau saw terhadap Al Qur'an sangatlah besar, dalam banyak riwayat disebutkan bahwa setiap kali ada muslim baru, atau muhajir baru, segera Rasulullah saw serahkan muhajir baru itu kepada orang Anshar untuk ber-TALAQQI Al Qur'an dan TALAQQI ini merupakan materi mu'ayasyah pertama dan utama yang harus diterimanya. Dan masih banyak lagi kisah-kisah faktual sejarah yang menunjukkan bahwa Al Qur'an adalah materi pertama dan utama dalam ad-da'watu ilallah, misalnya: kisah diutusnya Mush'ab bin 'Umair ke Madinah sebagai duta da'wah bil Qur'an pertama sebelum hijrahnya Rasulullah saw ke sana. Kisah dikirimnya 70 QURRA' (penghafal Qurfan) ke suatu kabilah untuk membimbing masyarakat di sana, yang ternyata kemudian dikhianati oleh kabilah tersebut, dalam sebuah peristiwa yang terkenal dengan nama peristiwa bi'ru ma'uunah. Dan lain sebagainya.

 

Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah swt ...

 

Hentikanlah tangis sang ustadz di atas dengan menunjukkan secara nyata adanya gerakan QUR'ANISASI di kalangan para da'i, jangan perpanjang daftar para ustadz yang menangis karena tindakan kita yang "mengesampingkan" perhatian kita terhadap Al Qur'an ini, sebab, bila para ustadz sudah pada menangis, maka hal ini akan menjadi pertanda tidak baik bagi da'wah ini. Kita semua harus sadar, dengan kesadaran yang membangkitkan himmah, hamasah dan 'azam yang kuat untuk mensukseskan proyek QUR'ANISASI ini, kita harus buktikan bahwa da'wah ini adalah da'wah yang mewarisi da'wah Rasulullah saw dan para sahabatnya, termasuk di dalamnya adalah mewarisi pe-NOMINASIAN AL-QUR'AN dalam setiap aktifitasnya, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang pernah diadukan (Na'udzu billah min dzalik) oleh Rasulullah saw kepada Allah swt, sebagaimana yang diceritakan dalam salah satu firman-Nya:

 

gBerkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". (QS Al Furqan [25]: 30).

 

Akan tetapi, kita harus terus berupaya agar kita termasuk orang-orang yang

disabdakan oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya:

 

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya.

 

Ya Allah swt, jadikanlah kita semua ini sebagai ahlul Qur'an, ahluka wa khashshatuka ya akramal akramin.