Make your own free website on Tripod.com

Home

Kesehatan | Daily Nihonggo | Resep Praktis | Info Bazar | Agenda Pengajian | Artikel Islam | Dunia Anak
Ummahat Tokyo No Saito
Anak Hiperaktif

Hiperaktivitas, Bisakah Disembuhkan?
* Ike R Sugianto
 
 

Hiperaktivitas adalah masalah yang paling banyak dikeluhkan oleh orangtua dan pendidik. Istilah ini begitu lazim di masyarakat, namun dalam pemahaman yang tidak sepenuhnya tepat. Biasanya, hiperaktivitas disamakan dengan banyak bergerak. Padahal, tidak semua anak yang banyak bergerak dapat dikategorikan hiperaktif.

 
Hiperaktivitas adalah salah satu aspek dari Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) atau yang dikenal dengan istilah Attention Deficit with/without Hyperactivity Disorder (ADD/HD). GPPH mencakup gangguan pada tiga aspek, yaitu sulit memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Apabila gangguan hanya terjadi pada aspek yang pertama, maka dinamakan Gangguan Pemusatan Perhatian (ADD), sedangkan bila ketiga
aspek terkena imbas gangguan barulah disebut GPPH (ADHD).
 
Anak-anak yang sulit memusatkan perhatian biasanya menampilkan ciri-ciri,
seperti ceroboh, sulit berkonsentrasi, seperti tidak mendengarkan bila
diajak bicara, gagal menyelesaikan tugas, sulit mengatur aktivitas,
menghindari tugas yang memerlukan pemikiran, kehilangan barang-barang,
perhatian mudah teralih, dan pelupa.
Sedangkan, ciri-ciri dari hiperaktivitas adalah terus-menerus bergerak,
memainkan jari atau kaki saat duduk, sulit duduk diam dalam waktu yang
lama, berlarian atau memanjat secara berlebihan yang tidak sesuai dengan
situasi, atau berbicara berlebihan. Sementara itu, impulsivitas ditampilkan
dalam perilaku yang langsung menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan,
sulit menunggu giliran dan senang menginterupsi atau mengganggu orang lain.
 
Bukan penyakit
 
Sydney Walker III, Direktur Institut Neuropsikiatris California Selatan,
dalam bukunya Hyperactivity Hoax, menyatakan bahwa kesalahan mendasar dalam
penanganan GPPH adalah memandangnya sebagai suatu diagnosa. GPPH bukanlah
suatu penyakit, melainkan sekumpulan gejala yang dapat disebabkan oleh
beragam penyakit dan gangguan.
Ambillah contoh, pusing. Pusing bukanlah penyakit tetapi suatu gejala.
Pusing bisa merupakan gejala influenza. Juga bisa disebabkan terlambat
makan, tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Atau, bahkan
bisa merupakan gejala tumor otak. Memberikan satu obat yang sama untuk
semua gejala pusing, jelas tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat
memperburuk kondisi pasien.
 
Demikian pula halnya dengan GPPH. Tidaklah tepat bila memberikan obat atau
pendekatan yang sama kepada semua anak yang mengalami GPPH, tanpa memahami
terlebih dahulu penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya.
Faktor penyebab
GPPH dapat muncul sebagai efek dari adanya infeksi bakteri, cacingan,
keracunan logam dan zat berbahaya (Pb, CO, Hg), gangguan metabolisme,
gangguan endoktrin, diabetes, dan gangguan pada otak. Dengan mengatasi
penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya, maka hiperaktivitas pun
dapat tertanggulangi.
 
Penyakit keturunan seperti Turner syndrome, sickle-cell anemia, fragileX,
dan Marfan syndrome juga dapat menimbulkan GPPH. Itulah sebabnya mengapa
GPPH juga dapat ditemukan dalam garis darah keluarga turun-temurun. Dalam
kasus seperti ini, GPPH dapat dikurangi dengan menghindari hal-hal yang
menjadi keterbatasan mereka.
Selain itu, masalah dalam integrasi sensorik serta gangguan persepsi dapat
melatarbelakangi timbulnya GPPH. Terkait dengan masalah ini diperlukan
terapi khusus yang terfokus pada kekurangan tiap individu.
GPPH juga dapat bersumber pada gaya hidup yang tidak sehat. Konsumsi
minuman berkafein (kopi, teh, coklat, cola, dan lain-lain) yang berlebihan,
pola makan dengan gizi tak seimbang, serta kuantitas dan kualitas tidur
yang kurang memadai disebut-sebut sebagai faktor yang turut menyumbang
munculnya masalah ini.
 
Terkadang GPPH hanyalah dampak dari pola kehidupan yang kurang disiplin.
Tanpa kedisiplinan yang konsisten, akhirnya mereka tumbuh menjadi anak-anak
yang malas, sembrono, sulit mengendalikan diri, dan mematuhi peraturan.
Untuk menanganinya diperlukan modifikasi perilaku dan kesediaan orangtua
untuk mengubah pola asuh mereka. Dalam hal ini, psikolog memegang peranan
yang penting untuk merancang program modifikasi perilaku dan memotivasi
orangtua dalam menciptakan pola asuh yang lebih tepat.
Stimulan
Sebagian besar anak-anak yang mengalami GPPH mendapat perawatan medis
berupa obat-obatan stimulan. Stimulan dipercaya dapat meningkatkan produksi
dopamine dan norepinephrine, yaitu neurotransmiter otak yang penting untuk
kemampuan memusatkan perhatian dan mengontrol perilaku. Ritalin dengan
kandungan methylphenidate adalah salah satu stimulan yang paling banyak
diresepkan.
Sementara mengonsumsi stimulan, anak akan mengikuti terapi dan modifikasi
perilaku. Setelah terapi dan modifikasi perilaku membuahkan hasil, dosis
stimulan akan dikurangi secara bertahap sampai akhirnya lepas obat sama
sekali. Demikian pendekatan yang paling banyak digunakan selama ini. C
Keith Conners PhD membuktikan efektivitas pendekatan ini melalui
penelitiannya yang disponsori oleh Institut Kesehatan Mental Nasional
Amerika (NIMH).
Di sisi lain, banyak juga pihak yang menentang pendekatan ini. Salah
satunya adalah gerakan Alternative Mental Health di Amerika. Mereka
memandang stimulan lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat.
Para pakar yang bergabung dalam gerakan ini dengan giat melakukan
penelitian tentang peranan nutrisi, diet, dan herbal untuk mengatasi GPPH.
Hasil penelitian mereka dapat dipantau melalui situs
www.alternativementalhealth.com.
Alasan yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Sydney Walker III yang juga
menentang penggunaan stimulan. Sydney mengingatkan, bahwa GPPH adalah
sekumpulan gejala yang dilatarbelakangi beragam penyakit dan gangguan,
sehingga tidaklah tepat menyamaratakan penanganannya. Lebih lanjut ia
menyatakan bahwa belum ada penelitian tentang efek jangka panjang stimulan.
Penelitian Conners yang dianggap terhebat sekalipun hanya berlangsung dalam
waktu 14 bulan.
Bahkan, Sydney mulai melihat kecenderungan anak-anak yang mengonsumsi
stimulan tertentu lebih mudah menjadi pecandu narkotika dan obat-obatan
berbahaya (narkoba) di usia dewasa. Selain struktur biokimia-nya yang mirip
dengan kokain, konsumsi stimulan membuat anak-anak terbiasa mencari jalan
keluar yang instan. Kurt Cobain-penyanyi grup Rock Nirvana yang tewas bunuh
diri-diangkat oleh Sydney sebagai contoh anak hiperaktif yang mendapatkan
penanganan yang salah. Ia terjerat narkoba sampai akhir hayatnya.
 
Penanganan
 
Apa pun bentuk penanganan yang Anda pilih, dengan atau tanpa obat, hal
utama yang perlu diperhatikan adalah menerima dan memahami kondisi anak.
Orangtua dan pendidik perlu memahami bahwa tingkah laku si anak yang tidak
pada tempatnya didasari oleh keterbatasan dan gangguan yang ia alami.
Bukan berarti orangtua dan pendidik lantas mengabaikan kedisiplinan,
melainkan anak dibantu untuk memenuhi peraturan. Misalnya, agar anak dapat
menyelesaikan tugas pada waktunya, bagilah tugas ke dalam beberapa bagian
kecil (beberapa nomor), tetapkan pula batas waktunya dengan jelas. Usahakan
agar ruang belajar bebas dari gangguan, seperti suara, pernak-pernik maupun
orang-orang yang hilir mudik.
 
Menempatkan anak di barisan paling depan dan
memberikan tepukan lembut juga dapat membantunya untuk memusatkan perhatian.
Berbagai tips praktis di atas, tentu saja tidak akan bermanfaat, apabila
penyebab dasarnya belum teridentifikasi. Untuk itu diperlukan kerja sama
tim yang terdiri dari dokter, dokter spesialis, psikolog, psikiater, guru
dan orangtua dalam proses identifikasi. Sesudah masalah teridentifikasi
dengan jelas, program penanganan dapat dirancang dengan akurat.
 
Pada beberapa kasus, anak-anak dengan gangguan ini membutuhkan terapi,
seperti terapi remedial, terapi integrasi sensori, maupun terapi lain yang
sesuai dengan kebutuhannya. Pusat-pusat terapi semacam ini telah banyak
berdiri, meskipun terbatas di kota-kota besar di Indonesia.
Ketekunan, konsistensi, kerja sama dan sikap mau mengubah diri sangatlah
dituntut dari pihak orangtua dan pendidik. Dengan kasih sayang yang tulus,
telah banyak orangtua dan pendidik yang berhasil membantu anak-anaknya
mengatasi masalah mereka. Jadi, hiperaktivitas bukanlah masalah tanpa jalan
keluar.
 
Ike R Sugianto, Psikolog anak di Jakarta
 
(Kompas 26/12/2002)
 

 

Enter content here

Enter supporting content here