Make your own free website on Tripod.com


Pernikahan Barokah

Berbicara tentang pernikahan banyak yang menyesal. Menyesal kalau tahu begini
nikmat kenapa tidak dari dulu. Menyesal ternyata banyak deritanya. Menikah itu
tidak mudah, yang mudah itu ijab kabulnya. Rukun nikah yang lima harus dihapal
dan wajib lengkap kesemuanya.Begitu pula dengan syarat wajib nikah pada pria yang
harus diperhatikan

..Bagaimana jika kita belum punya biaya? Harus diyakini bahwa tiap orang itu sudah
ada rezekinya. Menikah itu menggabungkan dua rezeki,

rezeki wanita dan laki-laki bertemu, masalahnya adalah apakah rezeki itu diambil
dengan cara yang barokah atau tidak. Allah tidak menciptakan manusia dengan rasa
lapar tanpa diberi makanan. Allah menghidupkan manusia untuk beribadah yang tentu
saja memerlukan tenaga, mustahil Allah tidak memberi rezeki kepada kita.

Biaya pernikahan bukanlah perkara mahal, yang penting ada. Maka kalau sudah
darurat bahkan mengutang untuk menikah diperbolehkan daripada mendekati zina.
Kalau sudah menikah setelah ijab kabul, jangan jadi riya dengan mengadakan
resepsi yang mewah. Hal ini tidak akan menjadi barokah. Misalnya dalam
mengundang, hanya menyertakan orang kaya saja, orang miskin tidak diundang.
Bahkan Rasulullah melarang mengundang dengan membeda-bedakan status. Dalam
mengadakan resepsi jangan sampai mengharapkan balasan income yang didapat.

Masalah mas kawin yang paling bagus adalah emas dan uang mahar yang paling bagus
adalah uang. Berilah wanita sebanyak yang kita mampu, jangan hanya berkutat
dengan seperangkat alat sholat saja. Rasulullah lebih mengutamakan emas dan uang
dan inilah hak wanita. Awal nikah jangan membayangkan punya rumah yang bagus.
Maka perkataan terbaik suami kepada istrinya adalah menasehati istri agar dekat
dengan Allah. Jika istri dekat dengan Allah maka ia akan dijamin oleh Allah
mudah-mudahan lewat kita. Tiga rumus yang harus selalu diingat terdapat dalam
surah Al-Asyr. Setiap bertambah hari, bertambah umur, kita itu merugi kecuali
tiga golongan kelompok yang beruntung. Golongan pertama adalah orang yang selalu
berpikir keras bagaimana supaya keyakinan dia kepada Allah meningkat. Sebab semua
kebahagiaan dan kemuliaan itu berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada
Allah. Tidak ada orang ikhlas kecuali yakin kepada Allah. Tidak ada sabar kecuali
kenal kepada Allah. Tidak ada orng y!
ang zuhud kepada dunia kecuali orang yang tahu kekayaan Allah. Tidak ada orang
yang tawadhu kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab dan kenal
dengan Allah semua dipandang kecil. Setiap hari dalam hidup kita seharusnya
dipikirkan bagaimana kita dekat dengan Allah.

Kalau Allah sudah mencintai mahluk segala urusan akan beres. Salah satu bukti
seperseratus sifat pemurah Allah yang disebarkan kepada seluruh mahlukNya bisa
dilihat sikap seorang ibu yang melahirkan seorang anak Kesakitan waktu
melahirkan, hamil sembilan bulan tanpa mengeluh yang belum tentu anak tersebut
akan membalas budinya. Tidak tidur ketika anaknya sakit, mengurus anak dari mulai
TK sampai SMA. Memikirkan biaya kuliah. Mulai nikah dibiayai sampai punya anak
bahkan juga diterima tinggal di rumah sang ibu. Tetapi kerelaannya masih saja
terpancar. Itulah seperseratus sifat Allah.

Selalu komitmen mau kemana rumah tangga ini akan dibawa. Mungkin sang ayah atau
ibu yang meninggal lebih dulu yang penting keluarga ini akan kumpul di surga.
Apapun yang ada dirumah harus menjadi jalan mendekat kepada Allah. Beli barang
apapun harus barang yang disukai Allah. Supaya rumah kita menjadi rumah yang
disukai Allah. Boleh punya barang yang bagus tanpa diwarnai dengan takabur. Bukan
perkara mahal atau murah, bagus atau tidak tetapi apakah bisa
dipertanggungjawabkan disisi Allah atau tidak. Bahkan dalam mendengar lagu yang
disukai Allah siapa tahu kita dipanggil Allah ketika mendengar lagu. Rumah kita
harus Allah oriented. Kaligrafi dengan tulisan Allah. Kita senang melihat rumah
mewah dan islami. Jadikan semua harta jadi dakwah mulai mobil sampai rumah. Tiap
punya uang beli buku, buat perpustakaan di rumah untuk tamu yang berkunjung
membaca dan menambah ilmu. Jangan memberi hadiah lebaran hanya makanan, coba
memberi buku, kaset dan bacaan lain yang berguna. Jangan !
rewel memikirkan kebutuhan kita, itu semua tidak akan kemana-mana. Allah tahu
kebutuhan kita daripada kita sendiri. Allah menciptakan usus dengan disain untuk
lapar tidak mungkin tidak diberi makan. Allah menyuruh kita menutup aurat, tidak
mungkin tidak diberi pakaian.

Apa yang kita pikirkan Allah sudah mengetahui apa yang kita pikirkan. Yang harus
kita pikirkan adalah bagaimana dekat dengan Allah, selanjutnya Allah yang akan
mengurusnya. Kita cenderung untuk memikirkan yang tidak disuruh oleh Allah bukan
yang disuruhNya. Kalau hubungan kita dengan Allah bagus semua akan beres. Barang
siapa yang terus dekat dengan Allah, akan diberi jalan keluar setiap urusannya.
Dan dijamin dengan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga. Dan barang siapa
hatinya yakin Allah yang punya segalanya, akan dicukupkan segala kebutuhannya.
Jadi bukan dunia ini yang menjadi masalah tetapi hubungan kita dengan Allah-lah
masalahnya.

Golongan kedua adalah rumah tangga yang akan rugi adalah rumah tangga yang kurang
amal. Jangan capai memikirkan apa yang kita inginkan, tapi pikirkan apa yang bisa
kita lakukan. Pikiran kita harusnya hanya memikirkan dua hal yakni bagaimana hati
ini bisa bersih, tulus, dan bening sehingga melakukan apapun ikhlas dan yang
kedua teruslah tingkatkan kekuatan untuk terus berbuat. Pikiran itu bukan mengacu
pada mencari uang tetapi bagaimana menyedekahkan uang tersebut, menolong, dan
membahagiakan orang dengan senyum. Sehingga dimanapun kita berada bagai pancaran
matahari yang menerangi yang gelap, menuai bibit, menyemarakkan suasana. Sesudah
itu serahkan kepada Allah. Setiap kita memungut sampah demi Allah itu akan
dibalas oleh Allah.

Rekan-rekan Sekalian, Mari kita ubah paradigmanya. Rumah tangga yang paling
beruntung adalah rumah tangga yang paling banyak produktifitas kebaikannya. Uang
yang paling barokah adalah uang yang paling tinggi produktifitasnya, bukan senang
melihat uang kita tercatat di deposito atau

tabungan. Uang sebaiknya ditaruh di BMT. Yang terjadi adalah multiefek bagi pihak
lain, hal ini menjadikan uang kita barokah. Daripada uang kita disimpan di Bank
kemudian Banknya bangkrut, disimpan di kolong kasur takut dirampok.

Kaya boleh asal produktif. Boleh mempunyai rumah banyak asal diniatkan agar
barokah demi Allah itu akan beruntung. Beli tanah seluas-luasnya. Sebagian
diwakafkan, kemudian dibangun masjid. Pahala akan mengalir untuk kita sampai
Yaumil Hisab. Makanya terus cari uang bukan untuk memperkaya diri tapi
mendistribusikan untuk ummat. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita
kecuali bertambah. Jadi pikiran kita bukan akan mendapat apa kita? tapi akan
berbuat apa kita?. Apakah hari ini saya sudah menolong orang, sudahkah senyum,
berapa orang yang saya sapa, berapa orang yang saya bantu?

Makin banyak menuntut makin capai. Makin kuat kita menuntut kalau Allah tidak
mengijinkan maka tidak akan terwujud. Kita minta dihormati, malah Allah akan
memperlihatkan kekurangan kita. Kita malah akan dicaci, hasilnya sakit hati.
Orang yang beruntung, setiap waktu pikirannya produktif mengenai kebaikan. Selagi
hidup lakukanlah, sesudah mati kita tidak akan bisa. Kalau sudah berbuat nanti
Allah yang akan memberi, itulah namanya rezeki. Orang yang beruntung adalah orang
yang paling produktif kebaikannya.

Yang ketiga rumah tangga atau manusia yang beruntung itu adalah pikirannya setiap
hari memikirkan bagaimana ia bisa menjadi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran
dan ia pecinta nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. Setiap hari carilah input
nasihat kemana-mana. Kata-kata yang paling bagus yang kita katakan adalah meminta
saran dan nasihat. Ayah meminta nasihat kepada anak, niscaya tidak akan
kehilangan wibawa. Begitu pula seorang atasan di kantor.

Kita harus berusaha setiap hari mendapatkan informasi dan koreksi dari pihak
luar, kita tidak akan bisa menjadi penasihat yang baik sebelum ia menjadi orang
yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi nasihat jika kita tidak bisa
menerima nasihat. Jangan pernah membantah, makin sibuk membela diri makin jelas
kelemahan kita. Alasan adalah kelemahan kita. Cara menjawab kritikan adalah
evaluasi dan perbaikan diri. Mungkin membutuhkan waktu sebulan bahkan setahun.
Nikmatilah nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan hidup. Sayang hidup hanya
sekali dan sebentar hanya untuk menipu diri. Merasa keren di dunia tetapi hina
dihadapan Allah. Merasa pinter padahal bodoh dalam pandangan Allah.

Mudah-mudahan kita bisa menerapkan tiga hal diatas. Setiap waktu berlalu
tambahlah ilmu agar iman meningkat, setiap waktu isi dengan menambah amal.
Alhamdulillah.***(Aa Gym)

----