Make your own free website on Tripod.com

Kendalikanlah kemarahan Anda (Bag.1)

Banyak orang tumbuh dalam keluarga yang memberlakukan keras apa yang
tidak boleh dikatakan. Mereka mengatakan, misalnya, "Jika kamu tidak
dapat berbicara tentang sesuatu yang baik, jangan berbicara sama
sekali."
Dan mereka kemudian belajar pada usia dini bahwa marah itu
tidak baik, dan untuk dapat diterima dalam keluarga, mereka harus
menekan rasa marah mereka. Masalah dengan pendekatan ini adalah orang
menekan rasa marah begitu lama sampai suatu saat nanti akan meledak,
melepaskan kemarahan di mana-mana dengan cara yang sangat merusak dan
tak terkendali.

 

Salah satu tantangan menjadi manusia dan orang
berdisiplin lembut adalah mempelajari bagaimana mengeluarkan rasa
marah secara konstruktif, berkomunikasi dengan orang lain, dan
terutama dengan anak-anak, dengan cara yang peka dan berhasil guna.
Untuk melakukan hal ini, pertama kali kita harus memahami "sifat
kebinatangan", maka mari kita cari apa yang berada di balik emosi
yang sangat kuat dan mengancam.

Rasa marah adalah seperti sebuah topeng menakutkan dari karet,
semacam yang dikenakan anak pada pesta halloween. Jika kita melihat
di balik topeng, kita akan menemukan manusia yang rapuh dan sensitif,
seseorang yang merasa terluka, takut, atau bingung. Namun, kita tidak
akan pernah mengetahui hal itu karena kita hanya melihat topengnya.
Rasa marah adalah topeng yang kadang-kadang kita kenakan untuk
menyembunyikan perasaan kita sebenarnya.
Itu merupakan pembelaan
diri, suatu cara bagi kita untuk menghindari perasaan penuh luka,
seperti rasa bersalah, tidak berdaya, atau rasa takut. Rasa marah
juga merupakan pilihan, yang berarti kita dapat memilih apakah kita
mau atau tidak mengenakan topeng.


Langkah pertama dalam meredakan kemarahan Anda adalah bersiap untuk
melepaskan topeng dan membiarkan orang lain mengetahui apa yang
sebenarnya Anda rasakan. Saya tidak mendorong Anda untuk menyebut
nama, untuk menyalahkan, atau untuk menyerang orang lain
E
menunjukkan kemarahan Anda bukanlah merupakan kesempatan untuk
melakukan penyiksaan secara verbal. Lebih dari itu, saya menyarankan
Anda memahami, menerima, dan menunjukkan kepada orang lain perasaan
di balik kemarahan Anda, yaitu perasaan sakit dan terluka.

Kadang-kadang kita mengerti bahwa rasa terluka kita muncul secara
cepat.
Misalnya : "Saya merasa terluka karena Anda melupakan hari
ulang tahun saya. Ini membuat saya berpkir bahwa saya tidak berarti
bagi Anda."
Lain kali, Anda membutuhkan waktu lebih lama untuk
menyingkap perasaan di balik rasa marah Anda.
Misalnya : "Ibu mertua
saya turut campur dan dia membuat saya sangat gusar ! Saya tidak tahu
mengapa saya sangat terganggu."


Adalah sangat membantu bila Anda mau menuliskan pikiran dan perasaan
Anda.
Buku harian pribadi, misalnya, dapat menjadi tempat yang aman
untuk mengeluarkan kemarahan Anda dan, dengan penuh harapan, Anda
dapat memahaminya dengan lebih baik.
Berikut ini beberapa pertanyaan
untuk Anda pertimbangkan saat Anda merasa marah.


Apakah Anda sudah menginterpretasikan keadaan dengan benar ?
Apakah Anda mengatakan "Tidak" kepada orang lain dan
menentukan batas-batas sehingga mereka tidak dapat mengambil
keuntungan dari Anda ?
Apakah Anda sudah realistis dalam mengharapkan dari orang
lain ? Atau diri Anda sendiri ?
Apakah Anda mengharapkan orang lain untuk "membaca"
pikiran Anda dan mengetahui apa yang Anda inginkan dan butuhkan ?

Kita semua mengetahui tanda-tanda kemarahan secara fisik : muka
menjadi merah, napas menjadi berat, dan perut mulai terasa panas atau
sakit. Namun sebenarnya, kemarahan dikendalikan oleh pikiran kita,
bagaimana kita berpikir mengenai seseorang atau keadaan.
Dan lewat
pikiran, kita dapat membuat diri kita semakin marah atau mengurangi
rasa marah.
Misalnya :


(Pikiran untuk menambah rasa marah) : "Atasan saya sangat tolol
karena menyuruh saya bekerja pada hari Sabtu !"

(Pikiran untuk mengurangi rasa marah) : "Atasan saya mungkin
kekurangan pegawai saat ini dan benar-benar membutuhkan bantuan
saya."

Belajar bagaimana memberikan pikiran yang sehat bagi diri Anda
guna
mengurangi rasa marah
adalah penting untuk mengendalikan kemarahan
Anda.

Seperti yang Anda lihat pada contoh tersebut, pada dasarnya rasa
marah merupakan suatu konflik kebutuhan.
Kita menjadi marah ketika
kita berpikir bahwa seseorang atau sesuatu terlibat dalam apa yang
kita inginkan atau butuhkan. Kebutuhan atau keinginan dapat berukuran
besar (seperti cinta, nyaman, atau, rasa aman) atau kecil.
Anak-anak,
misalnya, akan berkelahi untuk mendapatkan potongan kue yang lebih
besar. Semua negara akan berperang untuk memperebutkan wilayah. Saat
saya duduk dan menulis, kucing saya mencoba menarik perhatian saya
(keinginan, kebutuhan).
Saya merasa diri saya menjadi marah karena
saya ingin dibiarkan sendirian untuk mengerjakan buku ini (keinginan,
kebutuhan saya).


Entah berbicara mengenai keinginan akan makna, perhatian, atau
wilayah, rasa marah menyangkut persaingan individual (yang kadang-
kadang menjadi konflik) mengenai apa yang mereka inginkan dan mereka
butuhkan. Cobalah menghindari pikiran bahwa orang lain dengan sengaja
mencoba menyakiti Anda atau merusak kebahagiaan Anda (ini sangat
jarang jika ada pun hanya beberapa kasus). Berpikirlah mengenai rasa
marah sebagai suatu konflik kebutuhan.
(Nesia)

 

Dikutip dari: 50 cara efektif menanamkan tingkah laku positif pada
anak. Sehari satu, kali, kalau kuat ngetiknya.
Penulisnya : Dawn Lighter, MA. Penerbit : Gentle Disipline.