Make your own free website on Tripod.com

Ringkasan dari Buku "How to Help Children with Common
‌ Problems"

Bagian ke-26



‌ PENYEBAB HARGA DIRI RENDAH

‌ a. Kesalahan Praktek Pengasuhan Anak
‌ b. Contoh Orang Tua
‌ c. Penampilan yang Berbeda atau Cacad
‌ d. Keyakinan Irasional



‌ 1. KESALAHAN PRAKTEK PENGASUHAN ANAK

‌ (1) Overprotektif
Anak yang terlalu dilindungi, tidak belajar mandiri dan tidak menghargai
dirinya.
Mereka sering merasa ragu dan takut berbuat kesalahan. Orang tua memanjakan mereka dengan memberikan terlalu banyak dan tidak mengizinkan anak untuk mengatasi stressnya secara normal.
Anak-anak ini sangat rentan, mudah terluka dan tidak mampu menjaga dirinya
sendiri.
Anak tumbuh terlalu percaya diri, merasa besar, tetapi dibalik topeng itu, sesungguhnya ia memiliki harga diri yang rendah.

‌ (2) Orang Tua yang Mengabaikan
Jika orang tua tidak menghargai anak, anak akan terabaikan. Anak dapat
mandiri dan memiliki harga diri melalui relasinya dengan orang lain, namun
lebih banyak anak yang ditolak lingkungannya karena dianggap tidak cukup
berharga. Mereka secara fisik dan psikologis dianggap tidak pantas dan
akibatnya adalah mereka merasa tidak berharga.
Jika orang tua memahami
masalah anak, maka anak pun merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.


‌ (3) Perfeksionis
Banyak orang tua memiliki harapan yang sangat tinggi dan perfeksionis.

Mereka mengharapkan anak menampilkan kekuatan dan bukan kelemahan.
Hasilnya dapat diperkirakan, anak merasa tidak adekuat dan tidak mampu mengukur diri. Anak-anak ini menolak dibandingkan atau membandingkan diri sendiri dalam pencapaian keberhasilan. Seringkali mereka bertindak
berlebihan terhadap kegagalan dan melebih-lebihkan aspek negatif dari
suatu situasi.
Merasa merasa tidak mampu mencapai keberhasilan, mereka mudah menyerah, sering menunda-nunda atau tidak bersungguh-sungguh dalam bekerja.

‌ (4) Otokratik dan Pemberian Hukuman
Beberapa orang tua bertindak otoriter dan menerapkan aturan kaku.
Metode otoritarian dan hukuman diberikan berlebihan. Tidak ada interaksi positif dan saling menghargai. Anak mempersepsikan dirinya tidak berarti dan tidak bernilai. Kombinasi yang paling merusak adalah tuntutan ayah kepada anak laki-lakinya untuk bertindak sebagaimana layaknya seorang laki-laki. Pola ini adalah kebalikannya dari penggunaan hadiah/imbalan dan insentif yang dapat meningkatkan harga diri.

‌ (5) Kritik dan Mencela
Penerimaan, kasih sayang, persetujuan, pemahaman dan penghargaan orang tua meningkatkan harga diri dan pencapaian prestasi yang tinggi.
Penolakan dan kritik, menghasilkan perasaan tidak berharga dan sikap tidak ingin
mencoba.

Sikap mempersalahkan anak akan membentuk self image "anak nakal" yang
kemudian benar-benar dilakukannya. Anak nakal bertindak buruk karena
menyesuaikan diri dengan image dirinya dan membuktikan kepada orang tua
bahwa label itu benar. Disamping itu anak yang secara terus-menerus
disebut ceroboh, seringkali merasa dan bertindak dengan ceroboh pula.

Kegagalannya selalu disorot sementara umpan balik positif jarang atau
tidak diberikan.
Jika orang tua mengkritik dengan tajam terhadap cara
pasangannya mengasuh anak, hal ini pun akan merendahkan harga diri anak. Pengaruh kuat
lainnya adalah perlakuan guru.
Murid yang merasa bahwa gurunya menolak
dirinya, biasanya memiliki harga diri dan prestasi akademik yang
rendah dan mereka seringkali bertindak buruk.



‌ 2.
CONTOH ORANG TUA

Orang tua yang harga dirinya rendah akan menjadi contoh bagi anaknya.
Mereka
memperlakukan anak dengan kurang hormat sama seperti apa yang dirasakan
mereka sendiri. Anak merasa wajar untuk tidak peduli pada dirinya sendiri.
Mereka meniru komentar/pandangan negatif orang tuanya mengenai
keberhasilan
orang lain. Orang tua yang memiliki motivasi rendah biasanya memiliki anak
‌ yang bertingkah laku serupa.
Teman-teman dan saudara juga memiliki
pengaruh
cukup besar terhadap harga diri anak.
Oleh karena itu semakin banyak orang
tua atau guru memberi kebebasan pada anak, maka ia semakin diterima oleh
kelompok teman sebayanya (dan terutama oleh dirinya).


‌ III.
PENAMPILAN YANG BERBEDA ATAU CACAD

Anak yang memiliki penampilan sangat berbeda dari orang lain biasanya
memiliki harga diri rendah. Mereka merasa dirinya sangat buruk, pendek,
tinggi, bodoh atau yang lainnya. Anak marah pada dirinya karena merasa
berbeda dari orang lain dan membenci orang lain yang melihat atau menunjuk
perbedaan dirinya. Pengalaman negatif lainnya terjadi ketika penerimaan
‌ total dan kekaguman orang lain disalah artikan oleh anak. Pola yang sama
terjadi juga pada anak cacad, bahkan seringkali dalam kadar yang lebih
berat. Perbedaan atau ketidak normalan fisik nampak jelas, sehingga mereka
benar-benar merasa tidak berharga dan sayangnya hal ini diperkuat dengan
tatapan negatif dan komentar menyakitkan dari orang lain.


‌ IV.
KEYAKINAN IRASIONAL

Rumah, adalah sumber paling signifikan dari tumbuhnya keyakinan irasional
berikutnya adalah dari sekolah dan lingkungan sosial lain. Keyakinan yang
berkembang dari kesalahan praktek pengasuhan anak, model/contoh dan merasa
sangat berbeda dari orang lain ini menyebabkan beragam tingkah laku
merusak
diri. Anak membuat pernyataan-pernyataan seperti:
"Saya tak bisa mengerjakan segala sesuatu dengan benar"
"Saya pasti bodoh jika saya tak dapat memecahkan masalah itu"

Mereka yakin bahwa mereka tidak mampu menangani situasi baru. Ketika
perubahan muncul (kelahiran bayi, pindah rumah atau sekolah, perceraian),
mereka merasa bahwa harga diri mereka terancam, ragu-ragu dan tak mampu
bertindak. Pada tahun-tahun awal kehidupan, tingkah laku orang
tua/pengasuh
menentukan konsep diri individu.
Diperlakukan sangat buruk mengakibatkan
harga diri rendah.


Anak kecil tidak tahu bahwa kesalahan pola asuh adalah masalah orang
dewasa
dan bukan masalah mereka.
Mereka tidak dapat mengatakan, "Saya tidak
buruk,
‌ ayah saya lah yang selalu melihat setiap orang buruk." Oleh karena itu,
komentar dan tingkah laku negatif orang tua dipandang sebagai tuduhan
total
terhadap kepribadiannya.

 

(Farda Hasun)